Sunday, July 13, 2014
Wednesday, October 21, 2009
A POETRY I FOUND SOMEPLACE... Love this..
ALBUM REVIEW: SOULFY -- PROPHECY

I was never into Soulfly. I didn't have any of their albums and only knew Soulfly songs from the countless compliation albums that Roadrunner have been churning out over the years. I much prefer Sepulturea, especially during Arise and Chaos AD. I found Soulfly too "nu-metal" to my liking.
Totally different case with Prophecy.
This is simply amazing! The Max Power is so very brave, ignoring what the pure metallist would say about such a diverse album. Yes, diverse is the key here. While the hardcore death/thrash metal fans won't be disappointed by the first half of the album, the second half is just totally awesome and daring. Flamenco guitar? Check! Reggae? Check! New Age? Check! And all in one song, with thrash/death metal element intact!! Amazing.
And the last song, Soulfly IV is quite interesting too. Barbershop chanson, anyone?Granted, it's not metal. But being a music fan and not just a narrow-minded metalhead, I say I love it.
I always thought System Of A Down made a diverse album in Toxicity but Prophecy clearly blows SOAD.
May The Max Power continue to explore.
DICEKAL DI SEKOLAHKU: A Note From 1995
”Kamu nulis ya nulislah, tapi jangan tajam-tajam kayak dulu. Nanti malah bikin kacau semuanya...” ucap Ibu Ketua.
”Enggak deh Fuung...Kali ini aku nggak nulis yang gitu-gitu banget deh. Pokoknya nggak ada lagi gangguan stabilitas, vokal, dan sebagainya” ucap saya.
Lha, koq? Cuma begitu saja? Saya terima dicekal? Waduh, cekal. Aah, saya terlalu melebih-lebihkan. Organisasi kayak PMK saua lho, masak pakai cekal-cekal segala.
Eh tapi saya jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun lalu, semasa saya masih kelas 3 SMA.
Waktu itu (kisah nyata, ceritanya) pelajaran sedang berlangsung di kelas saya (dalam arti sang guru menerangkan sementara para murid sibuk sendiri, kecuali beberapa anak cewek yang duduk di baris depan). Tiba-tiba datang utusan dari kantor kepala sekolah. Rupanya saya dipanggil. Menurut beliau ada wartawan majalah ANEKA yang ingin berwawancara dengan saya (sekali lagi sodara-sodara, ini kisah nyata, bukan ndobos).
Diberitahu begitu, saya tentu saja kaget plus bangga. Anak Cikampek saja lho, diwawancara. Oleh majalah ANEKA lho, yang walaupun kerap saya benci karena cerpen-cerpennya isinya nggak lain nggak bukan mesti tentang cinta, air mata, cemburu, putus, naksir, dan kawan-kawannya, tetap saja majalah yang dibaca banyak orang. Apalagi kita tahu segmen ANEKA umumnya adalah remaja.....cewek. Lha ini!
ANEKA rupanya ingin memuat tulisan tentang sekolah saya. Untuk itu sekitar 4 atau 5 (saya lupa persisnya) siswa yang dianggap berprestasi dan mengharumkan nama sekolah diminta kesediaannya untuk diwawancarai. Di antaranya seorang teman saya yang pernah menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja Nasional, dan saya sendiri (walaupun terus terang yang dianggap “prestasi” di sini hanyalah kenyataan bahwa saya pernah bejo menang kesempatan untuk sowan ke kampungnya Helmut Kohl di Jerman sana, serta kebetulan menang beberapa lomba lain, yang saya tidak ingat lagi karena semua pialanya dipajang di sekolah).
Wawancara dimulai. Beberapa teman lebih dulu. Ditanya tentang suasana belajar di SMA kami, tentang guru-gurunya, iklim sekolah kami, dan sebagainya. Dan jawaban teman-teman tadi rata-rata “Oooh disiplin belajar di sini sudah sangat dijiwai siswa dan guru” “Oooh...suasana kelas sangat mendukung untuk belajar” “Oooh....” “Ooooh....”
Giliran saya ditanya, saya jawab apa adanya. Ooh, di sini jam kosongnya banyak sekali. Ooh, guru-gurunya banyak yang suka nggak masuk. Ooh, di kelas anak-anak ya ribut seperti biasa. Lha wong wkatu tadi saya dipanggil di tengah-tengah pelajaran saja saya sedang mainc atur dengan teman saya koq sementara Pak Guru sedang sibuk sendiri di papan tulis. Ooh, di kantin anak-anak cuek saja merokok walaupun ada larangan merokok di lingkungan sekolah. Oooh...Oooh...
Asli bukannya saya ingin menjelekkan bangsa dan negara di depan orang asing. Bukannya nasionalisme Nam Che saya rendah sekali.
Tapi ya...memang begitu keadaannya.
Lha Mas Wartawan itu tanya, ya saya jawab apa ananya...
Wawancara selesai. Kemudian kami dipotret. Mas Wartawan tadi bilang kalau artikel ini akan terbit beberapa minggu kemudian.
Wah! Masuk majalah lho....
Beberapa minggu kemudian ANEKA yang memuat artikel tentang sekolah kami beredar. Sekolah kami khusus membeli satu edisi dan menempelkan artikel tentang sekolah kami ituu di papan majalah dinding agar bisa dibacar semua orang. Saya yang agak kekurangan dana untuk beli majalah sendiri tentu saja segera menuju papan Mading untuk membaca dan, tentunya, mencari foto-foto saya, nama saya serta cuapan cuapan saya.
Tapi samapi pegal say bolak-balik meneliti artikel tadi ternyata tidak sedikit pun ada secuil nama saya di situ. Atau komentar-komentar pada saat wawancara. Apalagi foto! Sedangkan nama dan foto temen-temen saya yang iktu wawancara, yang jawabannya manis-manis semua sesuai policy sekolah, semuanya dimuat.
Saya cuma bisa senyum kecut. Tahulah saya, saya sudha terkena mekanisme cekal atau sensor atau sopan santun atau apalah. Mikul dhuwur mendhem jero. Right or wrong mu SMA. Seandainya say tidak kelewat tajam mulut mungkin saya sudah bisa telpon ke Cikampek, ”Papi...Papi...anakmu masuk koran lho! Apa nggak hebat?!....”
Itu peristiwa sekitar akhir tahun 1992/awal 1993. Sudah 16-17 tahun yang lalu. Anak yang saat saya diwawancarai dulu itu baru berupa satu dari sekian juta sel kecebong lainnya sekarang mungkin sudah jadi secantik Cinta Laura.
Wondering, though, if things have changed much since then.
Secara beberapa waktu lalu lewat sekolah saya lagi dan di depannya ada plang yang bertuliskan keterangan, something like “…Orang yang rambutnya dicat warna-warni tidak boleh masuk…”
Come to think of it, sebenarnya kampus tempat saya kuliah yang katanya kampus paling kaya se-universitas di universitas yang paling tua se-Asia Tenggara itu pun pernah pasang plang, something like, “…yang tidak berdasi dilarang masuk”
”Enggak deh Fuung...Kali ini aku nggak nulis yang gitu-gitu banget deh. Pokoknya nggak ada lagi gangguan stabilitas, vokal, dan sebagainya” ucap saya.
Lha, koq? Cuma begitu saja? Saya terima dicekal? Waduh, cekal. Aah, saya terlalu melebih-lebihkan. Organisasi kayak PMK saua lho, masak pakai cekal-cekal segala.
Eh tapi saya jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun lalu, semasa saya masih kelas 3 SMA.
Waktu itu (kisah nyata, ceritanya) pelajaran sedang berlangsung di kelas saya (dalam arti sang guru menerangkan sementara para murid sibuk sendiri, kecuali beberapa anak cewek yang duduk di baris depan). Tiba-tiba datang utusan dari kantor kepala sekolah. Rupanya saya dipanggil. Menurut beliau ada wartawan majalah ANEKA yang ingin berwawancara dengan saya (sekali lagi sodara-sodara, ini kisah nyata, bukan ndobos).
Diberitahu begitu, saya tentu saja kaget plus bangga. Anak Cikampek saja lho, diwawancara. Oleh majalah ANEKA lho, yang walaupun kerap saya benci karena cerpen-cerpennya isinya nggak lain nggak bukan mesti tentang cinta, air mata, cemburu, putus, naksir, dan kawan-kawannya, tetap saja majalah yang dibaca banyak orang. Apalagi kita tahu segmen ANEKA umumnya adalah remaja.....cewek. Lha ini!
ANEKA rupanya ingin memuat tulisan tentang sekolah saya. Untuk itu sekitar 4 atau 5 (saya lupa persisnya) siswa yang dianggap berprestasi dan mengharumkan nama sekolah diminta kesediaannya untuk diwawancarai. Di antaranya seorang teman saya yang pernah menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja Nasional, dan saya sendiri (walaupun terus terang yang dianggap “prestasi” di sini hanyalah kenyataan bahwa saya pernah bejo menang kesempatan untuk sowan ke kampungnya Helmut Kohl di Jerman sana, serta kebetulan menang beberapa lomba lain, yang saya tidak ingat lagi karena semua pialanya dipajang di sekolah).
Wawancara dimulai. Beberapa teman lebih dulu. Ditanya tentang suasana belajar di SMA kami, tentang guru-gurunya, iklim sekolah kami, dan sebagainya. Dan jawaban teman-teman tadi rata-rata “Oooh disiplin belajar di sini sudah sangat dijiwai siswa dan guru” “Oooh...suasana kelas sangat mendukung untuk belajar” “Oooh....” “Ooooh....”
Giliran saya ditanya, saya jawab apa adanya. Ooh, di sini jam kosongnya banyak sekali. Ooh, guru-gurunya banyak yang suka nggak masuk. Ooh, di kelas anak-anak ya ribut seperti biasa. Lha wong wkatu tadi saya dipanggil di tengah-tengah pelajaran saja saya sedang mainc atur dengan teman saya koq sementara Pak Guru sedang sibuk sendiri di papan tulis. Ooh, di kantin anak-anak cuek saja merokok walaupun ada larangan merokok di lingkungan sekolah. Oooh...Oooh...
Asli bukannya saya ingin menjelekkan bangsa dan negara di depan orang asing. Bukannya nasionalisme Nam Che saya rendah sekali.
Tapi ya...memang begitu keadaannya.
Lha Mas Wartawan itu tanya, ya saya jawab apa ananya...
Wawancara selesai. Kemudian kami dipotret. Mas Wartawan tadi bilang kalau artikel ini akan terbit beberapa minggu kemudian.
Wah! Masuk majalah lho....
Beberapa minggu kemudian ANEKA yang memuat artikel tentang sekolah kami beredar. Sekolah kami khusus membeli satu edisi dan menempelkan artikel tentang sekolah kami ituu di papan majalah dinding agar bisa dibacar semua orang. Saya yang agak kekurangan dana untuk beli majalah sendiri tentu saja segera menuju papan Mading untuk membaca dan, tentunya, mencari foto-foto saya, nama saya serta cuapan cuapan saya.
Tapi samapi pegal say bolak-balik meneliti artikel tadi ternyata tidak sedikit pun ada secuil nama saya di situ. Atau komentar-komentar pada saat wawancara. Apalagi foto! Sedangkan nama dan foto temen-temen saya yang iktu wawancara, yang jawabannya manis-manis semua sesuai policy sekolah, semuanya dimuat.
Saya cuma bisa senyum kecut. Tahulah saya, saya sudha terkena mekanisme cekal atau sensor atau sopan santun atau apalah. Mikul dhuwur mendhem jero. Right or wrong mu SMA. Seandainya say tidak kelewat tajam mulut mungkin saya sudah bisa telpon ke Cikampek, ”Papi...Papi...anakmu masuk koran lho! Apa nggak hebat?!....”
Itu peristiwa sekitar akhir tahun 1992/awal 1993. Sudah 16-17 tahun yang lalu. Anak yang saat saya diwawancarai dulu itu baru berupa satu dari sekian juta sel kecebong lainnya sekarang mungkin sudah jadi secantik Cinta Laura.
Wondering, though, if things have changed much since then.
Secara beberapa waktu lalu lewat sekolah saya lagi dan di depannya ada plang yang bertuliskan keterangan, something like “…Orang yang rambutnya dicat warna-warni tidak boleh masuk…”
Come to think of it, sebenarnya kampus tempat saya kuliah yang katanya kampus paling kaya se-universitas di universitas yang paling tua se-Asia Tenggara itu pun pernah pasang plang, something like, “…yang tidak berdasi dilarang masuk”
Saturday, October 17, 2009

MBAH JINGKRAK
Hari ini setelah cukup lama aku lunch di Mbah Jingkrak lagi. Sudah jadi groupie Mbah Jingkrak sejak restorannya masih di Bulungan. Untuk yang belum tahu, Mbah Jingkrak adalah nama restoran yang menyajikan masakan tradisional Jawa yang bener-bener seperti masakan rumahan di kampung, bukan yang sudah disesuaikan dengan selera umum atau turis asing. Dengan kata lain, belum "dijinakkan".
Beberapa waktu lalu restoran yang di Bulungan tutup, dan sebagai gantinya buka outlet di Setiabudi, di dekat Four Seasons Hotel. Sudah lama kepingin 'communion' dengan Mbah Jingkrak lagi tapi baru kesampaian tadi siang.
So what's changed from the old outlet? Well, for one thing, the place is more spacious. Dan dekorasinya makin 'tradisional', makin 'ndeso', baik dari sisi perabot maupun pemajangan pernak pernik antiknya.
Secara umum, dining section di Mbah Jingkrak Setiabudi ini dibagi 2 bagian.
Bagian pertama adalah -- menurut istilah saya sendiri -- the Jowo section. Di mana the overall atmosphere adalah berasa di rumah Mbah Kakung di desa Nggorang Nggareng atau di kampung Ceper sana.
Hari ini setelah cukup lama aku lunch di Mbah Jingkrak lagi. Sudah jadi groupie Mbah Jingkrak sejak restorannya masih di Bulungan. Untuk yang belum tahu, Mbah Jingkrak adalah nama restoran yang menyajikan masakan tradisional Jawa yang bener-bener seperti masakan rumahan di kampung, bukan yang sudah disesuaikan dengan selera umum atau turis asing. Dengan kata lain, belum "dijinakkan".
Beberapa waktu lalu restoran yang di Bulungan tutup, dan sebagai gantinya buka outlet di Setiabudi, di dekat Four Seasons Hotel. Sudah lama kepingin 'communion' dengan Mbah Jingkrak lagi tapi baru kesampaian tadi siang.
So what's changed from the old outlet? Well, for one thing, the place is more spacious. Dan dekorasinya makin 'tradisional', makin 'ndeso', baik dari sisi perabot maupun pemajangan pernak pernik antiknya.
Secara umum, dining section di Mbah Jingkrak Setiabudi ini dibagi 2 bagian.
Bagian pertama adalah -- menurut istilah saya sendiri -- the Jowo section. Di mana the overall atmosphere adalah berasa di rumah Mbah Kakung di desa Nggorang Nggareng atau di kampung Ceper sana.

Tidak kalah dari Hard Rock Cafe ataupun Planet Hollywood, Mbah Jingkrak juga dihiasi berbagai memorabilia bertama jaman mbiyen.Ada berbagai sepeda motor tua Ducati, DKW..

Ada koleksi berbagai botol kecap lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Para penguasa pasar lokal?

Uniknya juga, dipajang koleksi botol shampoo, sabun, etc yang pasti dicomot dari berbagai hotel tempat the owner pernah nginap :)

Nah bedanya dengan outlet Bulungan, di Setiabudi ini ada the second dining section, yaitu -- istilahku sendiri -- the Japanese section. Section ini letaknya outdoor, di halaman belakang, di tepi kolam. Yes, it's a nice touch to have an alfresco dining section decorated with Japanese ornamentalia. Even the tree there looks much like the cherry blossom tree.
The section started with a mock Japanese bridge


Nah bedanya dengan outlet Bulungan, di Setiabudi ini ada the second dining section, yaitu -- istilahku sendiri -- the Japanese section. Section ini letaknya outdoor, di halaman belakang, di tepi kolam. Yes, it's a nice touch to have an alfresco dining section decorated with Japanese ornamentalia. Even the tree there looks much like the cherry blossom tree.
The section started with a mock Japanese bridge

Tapi bagaimana dengan bagian terpentingnya --- the food??Well, they maintained the consistency of the quality in the food department. Masih totally traditional, totally ndeso, totally kampung, totally UENAK! Seperti masakan Yu Nah. Seperti masakan Mbak Watik..Dan bukan cuma dalam hal content mereka excel, hal context mereka juga sangat perhatikan. Tampak dari display yang pasti langsung sangat membikin meringis judheg mereka yang sedang sariawan

So what did we have? Well, tadi pesan: Nasi merahAsem asem koyorMangut ikan pari asapOseng oseng genjerOseng oseng jipang (labu siyem)Sambel iblis.Nasi putih2 es teh tawar2 oseng tempe peteSemuanya memuaskan.Especially Mangut ikan pari asapnya. Kerasa banget gurih asapnya. Tulang rawan ikan parinya juga bisa berfungsi sebagai pengganti krupuk yang kruwes kruwes. Kekruwesan itu digabung dengan letaknya sebagai tulang yang di dalam daging ikan makin membuat unik pengalaman mengkramusnya.

So what did we have? Well, tadi pesan: Nasi merahAsem asem koyorMangut ikan pari asapOseng oseng genjerOseng oseng jipang (labu siyem)Sambel iblis.Nasi putih2 es teh tawar2 oseng tempe peteSemuanya memuaskan.Especially Mangut ikan pari asapnya. Kerasa banget gurih asapnya. Tulang rawan ikan parinya juga bisa berfungsi sebagai pengganti krupuk yang kruwes kruwes. Kekruwesan itu digabung dengan letaknya sebagai tulang yang di dalam daging ikan makin membuat unik pengalaman mengkramusnya.

Kalaupun ada sedikit perubahan yang agak mengecewakan, Sambel Iblisnya yang dulu rasanya bener bener kayak Iblis yang nabok mulut kita pakai sandal terompah, sekarang rasanya koq agak agak 'tame' ya... Sudah 'aman terkendali', bukan lagi infinite chaos seperti dulu. Ini kabar baik buat temen temen yang takut pedas tapi menyedihkan buat saya, walaupun bukan berarti Sambal Iblis ini jadi manis. Pedasnya sih masih, cuma efeknya gak langsung jegrek kayak dulu melainkan kayak mesin diesel, panas belakangan.
Harga? Granted, not warteg cheap. But at Rp 80 ribu untuk semua menu di atas, yaa....masih terjangkaulah untuk setahun sekali makan di situ.Ayolah...sekali makan di Kiyadon atau di Shima atau di Riva bisa habis beratus ribu bahkan berjuta perak, give local delicacies a chance!
All in all, highly recommended to all of you. Go there. Best time to visit will be around 5 in the afternoon, where the day's heat has dissipated but there is still enough light to enable full enjoyment of the atmosphere, and not very long until it's dark enough for the lights to go up to create a whole different feel.
Happy eating!
Subscribe to:
Posts (Atom)



