Wednesday, October 21, 2009

DICEKAL DI SEKOLAHKU: A Note From 1995

”Kamu nulis ya nulislah, tapi jangan tajam-tajam kayak dulu. Nanti malah bikin kacau semuanya...” ucap Ibu Ketua.
”Enggak deh Fuung...Kali ini aku nggak nulis yang gitu-gitu banget deh. Pokoknya nggak ada lagi gangguan stabilitas, vokal, dan sebagainya” ucap saya.
Lha, koq? Cuma begitu saja? Saya terima dicekal? Waduh, cekal. Aah, saya terlalu melebih-lebihkan. Organisasi kayak PMK saua lho, masak pakai cekal-cekal segala.

Eh tapi saya jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun lalu, semasa saya masih kelas 3 SMA.

Waktu itu (kisah nyata, ceritanya) pelajaran sedang berlangsung di kelas saya (dalam arti sang guru menerangkan sementara para murid sibuk sendiri, kecuali beberapa anak cewek yang duduk di baris depan). Tiba-tiba datang utusan dari kantor kepala sekolah. Rupanya saya dipanggil. Menurut beliau ada wartawan majalah ANEKA yang ingin berwawancara dengan saya (sekali lagi sodara-sodara, ini kisah nyata, bukan ndobos).

Diberitahu begitu, saya tentu saja kaget plus bangga. Anak Cikampek saja lho, diwawancara. Oleh majalah ANEKA lho, yang walaupun kerap saya benci karena cerpen-cerpennya isinya nggak lain nggak bukan mesti tentang cinta, air mata, cemburu, putus, naksir, dan kawan-kawannya, tetap saja majalah yang dibaca banyak orang. Apalagi kita tahu segmen ANEKA umumnya adalah remaja.....cewek. Lha ini!

ANEKA rupanya ingin memuat tulisan tentang sekolah saya. Untuk itu sekitar 4 atau 5 (saya lupa persisnya) siswa yang dianggap berprestasi dan mengharumkan nama sekolah diminta kesediaannya untuk diwawancarai. Di antaranya seorang teman saya yang pernah menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja Nasional, dan saya sendiri (walaupun terus terang yang dianggap “prestasi” di sini hanyalah kenyataan bahwa saya pernah bejo menang kesempatan untuk sowan ke kampungnya Helmut Kohl di Jerman sana, serta kebetulan menang beberapa lomba lain, yang saya tidak ingat lagi karena semua pialanya dipajang di sekolah).

Wawancara dimulai. Beberapa teman lebih dulu. Ditanya tentang suasana belajar di SMA kami, tentang guru-gurunya, iklim sekolah kami, dan sebagainya. Dan jawaban teman-teman tadi rata-rata “Oooh disiplin belajar di sini sudah sangat dijiwai siswa dan guru” “Oooh...suasana kelas sangat mendukung untuk belajar” “Oooh....” “Ooooh....”

Giliran saya ditanya, saya jawab apa adanya. Ooh, di sini jam kosongnya banyak sekali. Ooh, guru-gurunya banyak yang suka nggak masuk. Ooh, di kelas anak-anak ya ribut seperti biasa. Lha wong wkatu tadi saya dipanggil di tengah-tengah pelajaran saja saya sedang mainc atur dengan teman saya koq sementara Pak Guru sedang sibuk sendiri di papan tulis. Ooh, di kantin anak-anak cuek saja merokok walaupun ada larangan merokok di lingkungan sekolah. Oooh...Oooh...
Asli bukannya saya ingin menjelekkan bangsa dan negara di depan orang asing. Bukannya nasionalisme Nam Che saya rendah sekali.
Tapi ya...memang begitu keadaannya.
Lha Mas Wartawan itu tanya, ya saya jawab apa ananya...

Wawancara selesai. Kemudian kami dipotret. Mas Wartawan tadi bilang kalau artikel ini akan terbit beberapa minggu kemudian.
Wah! Masuk majalah lho....

Beberapa minggu kemudian ANEKA yang memuat artikel tentang sekolah kami beredar. Sekolah kami khusus membeli satu edisi dan menempelkan artikel tentang sekolah kami ituu di papan majalah dinding agar bisa dibacar semua orang. Saya yang agak kekurangan dana untuk beli majalah sendiri tentu saja segera menuju papan Mading untuk membaca dan, tentunya, mencari foto-foto saya, nama saya serta cuapan cuapan saya.

Tapi samapi pegal say bolak-balik meneliti artikel tadi ternyata tidak sedikit pun ada secuil nama saya di situ. Atau komentar-komentar pada saat wawancara. Apalagi foto! Sedangkan nama dan foto temen-temen saya yang iktu wawancara, yang jawabannya manis-manis semua sesuai policy sekolah, semuanya dimuat.

Saya cuma bisa senyum kecut. Tahulah saya, saya sudha terkena mekanisme cekal atau sensor atau sopan santun atau apalah. Mikul dhuwur mendhem jero. Right or wrong mu SMA. Seandainya say tidak kelewat tajam mulut mungkin saya sudah bisa telpon ke Cikampek, ”Papi...Papi...anakmu masuk koran lho! Apa nggak hebat?!....”

Itu peristiwa sekitar akhir tahun 1992/awal 1993. Sudah 16-17 tahun yang lalu. Anak yang saat saya diwawancarai dulu itu baru berupa satu dari sekian juta sel kecebong lainnya sekarang mungkin sudah jadi secantik Cinta Laura.

Wondering, though, if things have changed much since then.

Secara beberapa waktu lalu lewat sekolah saya lagi dan di depannya ada plang yang bertuliskan keterangan, something like “…Orang yang rambutnya dicat warna-warni tidak boleh masuk…”

Come to think of it, sebenarnya kampus tempat saya kuliah yang katanya kampus paling kaya se-universitas di universitas yang paling tua se-Asia Tenggara itu pun pernah pasang plang, something like, “…yang tidak berdasi dilarang masuk”

No comments:

Post a Comment